RSS

HONDA VARIO 2009 (DENPASAR)

28 Sep

Tampilan modifikasi beraliran low rider atau hot rod pastinya ngambil ide dari benua Amerika sono. Di negeri Paman Sam itulah banyak aplikasi seperti ini. Tapi, begitu sampai di Bali jadinya beda. Pulau yang kaya dengan unsur seni ini memberikan pengaruh yang besar. Lihat saja pada Honda Vario milik Turah Jambe ini.

“Banyak sekali unsur etnik Bali yang kita masukkan ke dalam skubek ini. Alhasil bisa membuat jadi beda dengan tampilan low rider dari daerah lain,” kata Putu Edi Eka selaku modifikator

Hal yang bernuansa pulau para dewa ini adalah pada motif cat dan beberapa detail yang terlihat menempel di skubek ini. “Tapi, kami enggak mau terpatok dengan motif kain Bali yang kotak-kotak itu. Ambil sisi lainnya,” kata pria berambut lurus ini.

Memang style Bali yang populer adalah motif kain seperti papan catur. Tapi itu sudah beberapa kali diadopsi oleh penggila modif dari sana. Ogah disebut folllower maka Edi pilih model lain.

“Hal yang mungkin belum pernah adalah motif ukiran kayu, itu banyak modelnya tapi dipilih yang paling pas dengan bentuk bodi Vario,” tambah modifikator dari Bagus Custom yang berlokasi di Jl. Bakung, No. 120, Denpasar.

Tentu saja membuat motif ukiran lebih susah. “Sebab detailnya sangat kecil-kecil jadinya harus teliti sekali,” lanjut Edi.

Sementara bidang bodi masih mempertahankan aslinya clearalias tidak ada penggantian bodi part sama sekali. Begitu juga dengan model batang kaca spion. Sekilas itu seperti variasi yang banyak dijual yang mengambil tema flame khas gaya Amerika. Padahal di bagian kecil ini sesuatu yang berkesan Bali juga menempel.

“Model batang spionnya itu dibuat dengan mengambil motif ukiran Bali juga, sama dengan airbrush di bodi,” tambah pria ramah ini.

Sementara itu custom bodi memang nyaris tidak ada dilakukan. Hanya ada pembuatan sepatbor belakang model baru. “Bentuk dan model pastinya memang harus sesuai dengan tema low rider tadi,” ungkapnya lagi saat ditanya tentang rombakan bodi.

Ternyata bagi Edi bentuk asli Vario sudah tidak perlu diutak-atik lagi. “Sepatbor itu diperlukan untuk menambah kesan montok setelah roda belakang bertambah lebar,” kata pria yang juga seniman berbagai kerajinan tangan Bali ini.

Memang sesuai pakem low rider, maka sumbu roda belakang harus dimundurkan dan dilanjutkan dengan pemilihan ukuran pelek dan ban yang sesuai. Dengan masih berpatokan bodi standar maka lebar pelek yang 6 inci sudah dirasa paling pas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: